Kamis, 13 September 2012

merindukanmu dalam angan



Terkadang merindukan seseorang tak membutuhkan status atau hak lain, cukup dengan hati yang sedikit kuat rindu akan tercipta dengan indahnya. Setiap rindu yang hadir dan terbentuk memiliki aliran nada sendiri bagiku, dan kali ini aku merindukanmu dengan alur yang sangat berbeda. Merindukanmu dengan penuh emosi, merindukanmu dengan penuh keyakinan. Sedikit bahagia memang karena dia yang kurindukan telah bersamaku, cukup mudah bukan untuk menyatakan aku rindu dengan dia. Namun semakin mudah rindu yang terucap semakin hilang arti kerinduan tersebut.
Aku tak pernah membuat setiap rinduku yang kuberikan padamu terlihat mudah, seperti kalimat yang terucap dan terdengar lalu hilang dan dilupakan seiring dengan berjalannya waktu. Namun ini pertama kalinya aku tersadar kalau kau tak pernah membalas rinduku sesuai dengan pengharapanku, impianku. Kau selalu membalasnya dengan masa bodo, mungkin pikirmu ini hanya rindu dan saat kau melihatku besok semua akan sirna.

Tapi bagiku, ini jauh dari rindu seperti itu. Ini rindu ku yang mendewa, rindu yang tak mudah berganti menjadi apapun. Meskipun berkali-kali aku melihatmu, berbicara padamu rindu ini tetap ada tetap mengalir dalam dirikiu dengan arogannya. Jujur saja aku membenci rindu yang seperti ini, ini membuatku terpenjara dengan perasaanku sendiri. Mungkin rindu yang deras ini tercipta karena rasa sayangku padamu, dan ini kali pertamanya aku menyayangi seseorang hingga seperti ini hingga melupakan jati diriku sendiri. Aku merasakannya aneh tapi aku.....bahagia.

Rindu yang menggila, sayang yang menguat dan semakin kuat membuat aku merasakan rasa takut yang amat mendalam. Tentu saja aku takut, bukankah setiap perasaan manusia tidak bisa ditebak? Bukankah manusia mudah berubh pikiran tentang sesuatu? Aku sudah cukup umur dan dewasa untuk mengetahui segala sifat manusia. Dan aku sudah cukup mengenalmu sampai-sampai aku tau mana yang harus aku khawatirkan dan mana yang harus aku pedulikan.
Aku bukan gadis ceroboh yang mudah ditipu, aku tau kau tak tulus dalam membalas rinduku kali ini. Mungkin kau bosan, atau mungkin kau sudah hilang feeling denganku. Biasa seorang laki-laki merasakan hal itu pada wanita yang ia sukai. Wajar....

Tapi, aku memohon satu hal padamu jangan pernah kau gantungkan perasaanku, jelaskanlah kalau kau tak merindukanku juga. Beri tahu aku kalau kau memang sudah tidak merasakan perasaan apa-apa pada diriku. Aku bukan sebuah boneka yang bisa kau putar balikan perasaannya, aku wanita. Rapuh, sensitif, perasa, dan mudah menitikan hujan halus didekat pelupuk mata. Kau tega memporak porandakan ku?

Sebegitu sulit mencintai seseorang, sedikit luka saja cinta bisa berubah menjadi benci. Aku hanya sedikit terluka dengan kebohonganmu, kebohonganmu tentang rindu palsu yang kau buat. Aku tidak membencimu, aku hanya menyesali diriku sendiri kenapa aku tidak bisa membencimu.

Apapun yang kau perbuat, apapun yang kau lakukan, apapun yang kau katakan, dan apapun yang kau berikan padaku meskipun itu salah aku pasti akan memaafkannya, pasti. Apapun itu asalkan bukan wanita lain dan kebohongan.

Selasa, 04 September 2012

Sum-sum Tulang Belakang


Sumsum tulang belakang adalah saraf yang tipis yang merupakan perpanjangan dari sistem saraf pusat dari otak dan melengkungi serta dilindungi oleh tulang belakang. Fungsi utama sumsum tulang belakang adalah transmisi pemasukan rangsangan antara periferi dan otak.

Sistem saraf pusat (SSP) meliputi otak (bahasa Latin: 'ensephalon') dan sumsum tulang belakang (bahasa Latin: 'medulla spinalis'). Keduanya merupakan organ yang sangat lunak, dengan fungsi yang sangat penting maka perlu perlindungan. Selain tengkorak dan ruas-ruas tulang belakang, otak juga dilindungi 3 lapisan selaput meninges. Bila membran ini terkena infeksi maka akan terjadi radang yang disebut meningitis.
Ketiga lapisan membran meninges dari luar ke dalam adalah sebagai berikut:
Durameter; terdiri dari dua lapisan, yang terluar bersatu dengan tengkorak sebagai endostium, dan lapisan lain sebagai duramater yang mudah dilepaskan dari tulang kepala. Di antara tulang kepala dengan duramater terdapat rongga epidural.

Arachnoidea mater; disebut demikian karena bentuknya seperti sarang labah-labah. Di dalamnya terdapat cairan yang disebut liquor cerebrospinalis; semacam cairan limfa yang mengisi sela sela membran araknoid. Fungsi selaput arachnoidea adalah sebagai bantalan untuk melindungi otak dari bahaya kerusakan mekanik.

Piameter ; Lapisan terdalam yang mempunyai bentuk disesuaikan dengan lipatan-lipatan permukaan otak.

Otak dan sumsum tulang belakang mempunyai 3 materi esensial yaitu:

badan sel yang membentuk bagian materi kelabu (substansi grissea) serabut saraf yang membentuk bagian materi putih (substansi alba) sel-sel neuroglia, yaitu jaringan ikat yang terletak di antara sel-sel saraf di dalam sistem saraf pusat

Walaupun otak dan sumsum tulang belakang mempunyai materi sama tetapi susunannya berbeda. Pada otak, materi kelabu terletak di bagian luar atau kulitnya (korteks) dan bagian putih terletak di tengah. Pada sumsum tulang belakang bagian tengah berupa materi kelabu berbentuk kupu-kupu, sedangkan bagian korteks berupa materi putih.

Otak

Otak mempunyai lima bagian utama, yaitu: otak besar (serebrum), otak tengah (mesensefalon), otak kecil (serebelum), sumsum sambung (medulla oblongata), dan jembatan varol.

Selasa, 28 Agustus 2012

Kecewa...


Sebegitu mudahkah kau menilai seluruh jerih payahku, ini tentang perasaan. Setidaknya hargailah apa yang telah kubuat untukmu meskupin ini terlihat mudah. Tapi apapun yang kulakukan untukmu tak pernah terlihat mudah, semua sulit. Sulit bagiku membuang waktu dengan sia-sia menunggu kau yang tak ada sedikitpun penjelasannya.

Apa dimatamu aku selalu melakukan hal yang buruk? Apa semua hal yang ku lakukan tak pernah ada sedikit harganya dimatamu? Seburuk itukah kelakuanku dimatamu? Aku ingin tau dari mana cara pandangmu melihatku? Atau mungkin penglihatanmu saja yang terlalu istimewa sampai tidak bisa melihat sedikit pun pengorbananku..
Kau tidak pernah menghargai sedikitpun usahaku karena kau tidak pernah menganggap ku ada. Sedikitpun kau tak pernah melihatku ada diposisi yang benar, kau selalu mengetahui posisiku disaat aku salah. Sedikit saja aku melakukan kesalahan kau selalu mengatakan “Aku kecewa”, bukankah wajar seorang manusia melakukan kesalahan? Aku seorang manusia dan bukan malaikat ataupun Tuhan yang sempurna yang tidak melakukan kesalahan sedikitpun. Dan bukannya aku sudah sering meminta maaf atas kesalahanku, dan bukankah hal itu cukup sepele untuk dipermasalahkan. Kurasa memang kau yang ingin mencari setiap seluk-beluk keburukanku agar kau bisa menyalahkanku terus menerus, dan kesalahan itu bisa kau gunakan sebagai alasan untuk menjauhi ku.

Seberapa besar kekecewaanmu padaku tak akan mampu menandingi besarnya rasa tulusku padamu, tak mampu menandingi seberapa besar harapanku padamu. Kau pikir aku tak pernah kecewa pada mu? Aku selalu kecewa padamu, selalu! Disaat harapanku tak dianggap, aku kecewa. Disaat mimpiku tak pernah kau rangkul, aku kecewa. Disaat kau tak pernah melihat pengorbananku, aku kecewa. Kecewa, kecewa, dan kecewa. Tapi, kau segalanya bagiku kau harapan terindah ku walaupun kosong, kau mimpi-mimpi terpendamku.. apa iya aku harus terus membicarakan kekecewaan padamu? Kurasa itu tak akan selesai lebih baik membungkamnya daripada harus mengatakan yang sejujurnya.
Menurutku melihat kau saja rasa kecewa ku bisa terhapuskan, jadi untuk apa aku harus terus membicarakan kekecewaan kalau kau tetap bisa ku lihat. Pikirku, mungkin aku yang terlalu kekanak-kanakan sehingga aku selalu salah dimatamu. Atau mungkin aku yang terlalu bodoh, hal seperti itu selalu membuatmu kecewa terus-menerus. Aku yang terlalu buta sehingga tak pernah melihat keinginan kau yang sebenernya, otakku yang terlalu lamban berfikir dalam menangkap sinyal anganmu. Dan mungkin aku yang terlalu telat dalam memahamimu.

Namun sepertinya kini ku sadar, apapun yang aku lakukan tak akan ada artinya dihadapan mu dikedua tatapan bola matamu. Kau selalu mencari setiap kesalahan dari diriku, entah karena hal apa. Mungkin karena kau tak mengerti bagaimana posisiku, atau mungkin karena memang kau ingin menjadikan setiap kesalahanku sebagai umpan. aku akan tetap bertahan dalam keadaan ini dalam diam. Kini aku sudah menyerah atas dirimu, silakan kau pergi meneruskan hidupmu dengan siapapun aku akan melihatnya dengan bahagia. Misalnya pun nanti kau lupa padaku akupun tetap bahagia, karena jelas disini aku masih mengingatmu.

Terkadang jika kita terlalu mencintai seseorang
kita akan membiarkannya selalu salah paham,
daripada menceritakan kenyataan yang terjadi
Karena itu akan semakin membuatnya terluka.

Jumat, 24 Agustus 2012

Memilih tanpa Pilihan


Melupakannya adalah bagian tersulit dalam mencintai. Melupakan, menghindari, membuang perasaan ini jauh-jauh itu adalah paket kesulitan yang tak pernah bisa ku gapai. Kalau aku boleh memilih lebih baik aku tak bernapas lagi dibandingkan harus meninggalkan perasaan ini tanpa ujung yang jelas. Percuma juga aku berusaha dan berupaya sekuat tenaga, disaat-saat melupakanmu tinggal satu bagian lagi tiba-tiba dengan senyummu yang indah itu kau datang kau merangkulku kau membicarakan setiap alasan kenapa kau bisa tersenyum.
Hatiku meradang, entah sudah berapa lama luka ini tak pernah sembuh aku pun sudah lupa waktunya. Kau yang tak pernah sadar dengan hatiku, kau yang dengan mudahnya mengatakan kau rindu aku kau sayang padaku kau melarangku untuk pergi kemanapun tanpa kau tau hal itu sudah menjadi janji bagi diriku sendiri.
 
Tapi kenapa disetiap aku membutuhkanmu, kau tak pernah ada. Disaat aku sangat ingin bertemu denganmu kau selalu sedang bersama orang lain. Semua yang kau inginkan selalu aku penuhi dengan cepatnya, semua..meskipun aku tidak bisa memenuhinya tapi aku berusaha untuk menggapainya. Sebaliknya, kau. Kau yang selalu terlihat membanggakan dihadapanku, kau tak pernah sedikit pun membahagiakan aku dan memenuhi satu keinginanku.
Kita memang sangat bertolak belakang, mungkin kita memang tidak ditakdirkan bersama dan mungkin ini hanya perasaanku saja yang terlalu berlebihan terhadapmu. Terhadap dirimu yang kini datang lagi kedalam hidupku.

“kangen.” Ucapanmu tadi siang cukup membuatku tercengang begitu hebatnya. Memang ini sudah kau ucapkan berkali-kali dan memang seharusnya aku tak perlu tercengang untuk kesekian kalinya. Tapi tak bisa. Kini pikiranku berputar ke beberapa jam yang lalu.
“lo nggak mau bales kangen gue?” tanyanya begitu polos sambil memandangku. “Hah? Bales kangen lo? Hahaha.” Aku sangat bingung terhadapnya, kenapa dia sangat mudah memojokkan aku dan perasaanku. Ku rasa dia tak bodoh pasti dia tau perasaanku selama ini, pasti dia mengerti maksud tawaku.
“Ternyata bener, lo emang nggak pernah percaya sama gue.” Ucapnya terakhir kali sambil bangkit dari sampingku dan pergi meninggalkan aku begitu saja tanpa ada sedikitpun penjelasan.
Dan kali ini, aku merasakan sakit yang menusuk jantungku lagi. Ternyata usahaku untuk menghindarinya tidak berhasil lagi kali ini. Dia yang membuat semua ini menjadi gagal, aku tak bisa melihat sosok mata teduh itu lagi. kurasa aku akan terus merasakan gagal kalau aku terus berada di dekatnya atau pun berada disatu lingkungan bersamanya.
Aku harus menghindarinya.....

Dan akhirnya, aku tersadar semakin lama aku berusaha untuk mengindarinya semakin lama juga aku akan bersamanya. Aku semakin mengerti kenapa waktu selalu mempertemukan aku denganmu, kenapa waktu seperti melarang aku denganmu berpisah. Sebenernya itu bukan kehendak waktu tapi usahaku lah yang membuat semua seperti bukan keinginanku. Aku sendiri yang selalu mempertemukan diri denganmu.
Aku tidak akan berusaha apapun untuk menjauhi dirimu, aku akan bersikap biasa saja. Aku akan mengalir seperti perahu yang kehilangan arah ditengah lautan, aku akan menjadi kertas kosong yang akan menunggu si penulis menorehkan tinta dan membentuk garis diatas kertas itu, dan aku akan menjadi kain kanvas kosong yang menunggu sang seniman menorehkan cat warnanya untuk memberi kehidupan bagi lukisannya.

Terbiasa. Aku akan mencoba terbiasa, terbiasa hidup terombang-ambing karena perasaan ini sehingga nantinya hatiku akan merasakan kenetralan sendiri. Semoga saja disaat aku terbiasa seperti ini tingkat rasa sayangku padamu belum berkurang sedikitpun. Dan semoga saja harapanku belum berubah sedikit pun.

Selasa, 21 Agustus 2012

Rapuh


Berulang kali kau menarik hati, perasaan, dan logika ku kearah mimpi yang tak mampu ku lukiskan dengan kata-kata tapi berulang kali juga kau mengulur setiap harapan yang telah ku buat. Sebenarnya apa yang kau inginkan? Apa yang kau harapkan? Dan apa yang kau impikan atas diriku?

Aku yang sudah sangat rapuh atas perlakuanmu, aku yang sudah sangat hancur atas sikap dan perhatianmu. Masihkah kau mengharapkan diriku? Apa kau bahagia melihatku dengan luka seperti ini? Apa kau bahagia melihatku dengan tangis seperti ini? Atau memang ini yang kau harapkan atas aku?

Kau jadikan aku apa sebenarnya dalam hidupmu, kenapa sebegitu mudahnya kau memutar balikan setiap perasaanku? Dan kenapa aku tidak pernah bisa mempertahankan perasaan ku sendiri dari orang seperti mu?
Apa mungkin ini yang disebut cinta? Tapi, kenapa aku selalu merasakan hal pahit?

Berharap padahal tak diharapkan. Rindu yang tak kunjung terbalas. Perasaan yang terombang-ombing tanpa kejelasan sedikitpun. Setiap aku menangis kau selalu tersenyum. Dan disaat aku berduka kau selalu bahagia.
Dengan mudahnya kau melakukan hal itu tanpa memperdulikan sedikitpun perasaanku. Kini aku sudah sangat lelah atas perasaan ini, tak ada yang bisa dipertahankan lagi atas ini. Perasaan ini sudah cukup mempermalukan diriku, dan hati ini...kepingannya sudah hancur tak berbekas sedikitpun.

Aku hanya bisa menguatkan hati ini, mencoba membentuk titik baru untuk garis baru. Melupakan dan membuang setiap harapan yang masih tersisa, tanpamu.

Selasa, 14 Agustus 2012

Tautan hatiku

Kamu mengajari aku untuk meninggalkan sesuatu yang sangat aku sayangi. Kamu mengajari aku untuk membuang sesuatu yang sangat aku butuhkan. Dan, kamu mengajari aku menyimpan rasa sakit yang tidak akan pernah terobati.

Lebih dari semuanya telah aku relakan kepadamu. Tapi kenapa selalu air mata yang kau sisakan untuk ku? Tak cukup kah engkau mengikis habis hatiku untuk mencintaimu tanpa ada pembalasan? Tak cukup kah engaku memporak-porandakan hati ini hingga tak tersisa satu kepingan pun untuk ku jaga? Ini hatiku, ini milikku tapi kenapa dengan mudahnya kau menghancurkannya?

Masih kah engaku mengatakan kata-kata egois kepadaku setelah engkau melihat keadaan sebenarnya yang terjadi padaku?
Aku bukan wanita munafik yang meminta belas kasihan darimu. Aku hanya membutuhkan dirimu dan pundakmu saja dalam menemaniku. Menemani hatiku, jiwaku, dan kebahagiaan ku yang mungkin masih tersisa sedikit disini.
Aku, kini sudah tak berdaya. Semua yang kumiliki telah direnggut oleh perasaan ini, perasaan tak berbalas. Perasaan yang tak kunjung membuahkan hasil, perasaan yang sampai kapan pun hanya menghasilkan kehampaan dan jauh dari kenyataan.
Mungkin aku sudah terlalu tak waras, disetiap rindu yang kau torehkan aku hanya bisa memejamkan mata. Dan, tentu saja senyuman manis itu akan selalu ada dan muncul jelas didepan kedua bola mataku. Senyuman terindah darimu.
Aku mampu hidup tanpa bayang-bayangmu, aku mampu bernapas tanpa harus melihat sosokmu, dan aku mampu tersenyum tanpa harus ada kau. Tapi, hatiku tak mampu melakukan hal itu dan logika ku selalu kalah dalam hal ini. Mungkin ini karena pikiranku sudah terkunci oleh perasaan terdalam ini.
Mungkin benar, hanya kekuatan doa yang benar-benar bisa membuat kita bersama. Tidak seperti dulu, karena kita dulu tidak pernah bersama. Aku hanya menjadi persinggahan untukmu, persinggahan yang tak istimewa dan khusus untuk dirimu. Seperti benda yang tak layak pakai aku hanya mampu menjadi yang kedua bagi hatimu dan dirimu.
Mencintaimu membuat aku berkarya atas apapun, mencintaimu membuat aku terdiam dan hening dalam setiap keadaan, dan mencintaimu membuat aku lebih dekat kepada Tuhan. Aku beruntung bisa mencintaimu meskipun tak ada timbal balik atas perasaan itu sedikit pun.

Sabtu, 11 Agustus 2012

Sepenggal Kisah Bersamamu (2)


Warna matanya, kebaikan hatinya, dan kini senyumnya benar-benar membuat aku masuk kedalam dirinya. Apa ini yang dinamakan mencintai seseorang pada pandangan pertama? Sepertinya iya. Kini senyumku benar-benar mengembang begitu hebatnya, ternyata aku beruntung kali ini aku tidak sesial seperti apa yang aku pikirkan. Kini kereta yang aku tumpangi berjalan begitu cepat dan waktu pun berlalu begitu cepat pula, kini malam telah menjadi larut dan telah menjelma menjadi pagi. Pukul 03.00 aku mengobrol dengan Ridwan begitu lamanya, diantara teman gerbong yang sudah tertidur hanya kami yang masih bercengkrama sampai sekarang.
Mulai dari membicarakan kebiasaan, sekolah, dan umur. Ternyata aku dan dia hanya terpaut satu tahun. Setelah lelah membicarakan diri masing-masing akhirnya aku bisa tertidur pulas disampingnya yang mungkin masih terjaga. Entah apa yang terjadi tapi aku merasakan kepalaku menyentuh sesuatu sepertinya itu....pundaknya!
Akupun tersadar dan cepat-cepat berpikir untuk membetulkan kembali posisiku, namun ku urungkan niatku itu. Karena, ia pun tertidur dengan pulasnya tanpa sadar kepalanya menyentuh kepalaku. Rambut kami pun bertaut. Untung saja gravitasi kesadaranku atas hal ini tak membangunkannya dan menarik alam sadarnya untuk terbangun. Mungkin aku terlalu licik atas hal ini, tapi jujur saja hal ini terlalu indah untuk disadarkan.
Akupun memulai untuk tidur kembali, dan mencoba untuk tidak menyadarkan diri supaya ini terlihat seperti takdir yang murni terjadi dan tak ada unsur kebohongan. Waktu menunjuk kan pukul 06.30 ponsel ku berdering, keluarga ku yang telat mengkhawatirkan aku bertanya apakah aku baik-baik saja. Mereka seperti pahlawan kesiangan yang benar-benar telat mempedulikan korbannya. Saat aku tersadar setelah ponselku tertutup, aku kaget ternyata Ridwan laki-laki yang duduk bersama ku semalam menghilang entah kemana. Apa mungkin aku melakukan kesalahan sampai ia pergi begitu saja. Namun sepertinya tidak, setelah aku melihatnya berjalan keluar dari arah toilet.
Tapi ada apa dengan ku? Aku baru saja mengenalnya dia baik atau jahat aku pun tak tau yang sebenarnya. Namun ada satu hal yang benar-benar aku tau tatapan mata teduhnya itu benar-benar jujur dan benar, aku yakin atas hal itu. Aku terdiam dan selalu memikirkan hal ini, cepat atau lambat aku akan tersadar kalau ini hanya pertemuan sementara da tak akan pernah terulang lagi kecuali takdir yang benar-benar mempertemukan kami.
“Sebentar lagi sampai Jakarta kamu tidak siap-siap?” tanyaku sambil melempar senyum terhangatnya yang selalu terbentuk dan tak pernah berubah garisnya. “Ah, cepet banget. Emang ini udah dimana?” tanyaku polos padanya. Jujur saja semenjak masuk kedalam kereta ini aku tak tau sudah berapa banyak stasiun yang aku lewati, untung saja disamping ku ini bukan pembohong dan syukurlah sampai sekarang buktinya aku masih selamat. “Jadi kamu bener-bener ngga tau daerah sini ya, ini di Cikarang,” tawanya yang tulus terlontar kearahku. “Ohya tadi aku pesen Hot Lemon Tea, kamu mau?” tanyanya lagi kini kearahku. “Nggak usah, makasih.” Jawabku kali ini cukup judes terdengarnya, atau mungkin ini karena sebentar lagi aku akan berpisah dengannya dan aku benar-benar membenci takdir ini.
Sepertinya aku benar-benar harus tersadar kalau kali ini aku dan dia harus terpisah oleh kenyataan, tepatnya hanya aku. Karena, dia tidak mungkin memikirkan hal yang sama seperti aku. Aku harus mensugesti diriku sendiri, kalau dia bukan siapa-siapa dia hanya sekedar orang yang baik yang telah memberiku tempat duduk satu malam. Aku pun sedikit terbangun dan mulai mencari kursi kosong, karena sudah banyak penumpang yang mulai bergantian turun dipemberhentian tiap stasiun. Akhirnya! Aku menemukan satu kursi kosong.
“Permisi,” kataku sopan padanya yang sedang fokus dengan gadget ditangan kirinya. “Ehiya kenpa?” tanyanya. “Disana ada kursi kosong, bolehkan kalo saya pindah? Ya biar lebih dekat sama pintu gerbong aja jadi gampang keluarnya.” Ucapku benar-benar jelas sopan aku takut menyinggungnya yang telah baik hati padaku. “Loh? Kan nanti turunnya bisa bareng saya. Saya bantuin deh,” tolaknya. “Jangan..udah kebanyakan ngebantu. Maaf ya. Makasih juga atas tempat duduknya.” Kini aku benar-benar terbangun dan mulai memindahkan barang-barang ku ke kursi kosong depan. Mungkin seperti ini lebih nyaman. Mungkin aku tidak akan menyukainya lagi kalau aku pindah disini.
Entah kenapa, kini aku sudah turun dari kereta dan aku sudah menaiki taksi menuju rumahku. Aku merasa harapanku hancur lebur saat tadi kereta memberhentikan kelajuannya di stasiun Jatinegara dan aku terpisah dengannya. Dengan senyumnya, sorot mata teduhnya, dan mata abu-abunya. Sebenarnya aku ingin lebih dari sebuah perkenalan, tapi untuk apa? Aku takut kalau dia tidak sebaik pertemuan pertamanya.
Satu minggu sudah aku menyelesaikan urusan sekolahku di Jakarta, namun kenapa aku tetap mengingatnya. Aku harus me-refresh otak ku dan mulai melupakan segalanya, itu hanya keberuntungan semata dan tak akan terulang lagi. Takdirnya memang berbeda dengan harapan jadi sadarlah, sugesti itu cukup menguatkan aku. Sampai akhirnya kini aku berjalan dan mengemudikan mobil sampai pada kafe Hema dijalan Kemang Pratama Bekasi. Aku menikmati suasana sendiri disini, dan sugesti itu sepertinya berhasil.
Berhasil sampai pada akhirnya, ada seseorang memanggil namaku berulang kali. Sekilas aku mengingat wajahnya tapi aku benar-benar lupa namanya. Setelah mengingat-ingat dengan keras, aku sadar. Dia, Ridwan. Aku tak menyangka ternyata keajaiban selalu datang disaat keputus asaan mulai melanda. Aku bingng dengan takdir ini aku bertemu lagi dengannya. Si tatapan teduh, si bola mata abu-abu. Dan kini aku telah berteman dekat dengannya, mungkin lebih J